Berikut Bahan-Bahan Siomay Bandung:
Bahan 1 :
200 gr ayam cincang ( aku pake ayam fillet, cincang sendiri)
100 gr udang di cincang
200 gr ikan tenggiri dihaluskan
2 sdm ebi digoreng dan diulek lemes
2 batang daun bawang iris halus
Bahan 2 :
150 gr tepung tapioka
Tepung terigu secukupnya
150 gr labu sian /bengkoang serut halus
150 ml air
Bumbu diuleg :
4 siung bawang putih
4 siung bawang merah
1 sdt merica
1 sdt gula
1 sdt garam
Kecap ikan secukupnya ( diresep 5 sdm, tapi fish sauce di Thai asin banget, jadi aku kurangin)
Cara membuat :
Campur bahan 1 dan 2 juga bumbu diuleg serta kecap asin, lalu diulet
pake tangan, aduk rata. Tambahkan air biasa 150 cc boleh ditambah lagi
max 50 cc, disesuaikan, pokoknya tidak terlalu cair, juga tidak terlalu
keras.
Setelah semua tercampur, harus langsung dibentuk, aku pake kulit pangsit
di isi bahan adonan ini. Juga isi temen2nya siomay seperti tahu, kol
rebus, kentang, paria, telor.
Kukus sampai matang.
Saus Kacang :
200 gr kacang tanah goreng
Gula merah
1sdt garam
Kecap sedikit
3 siung bawang putih
50 gr kentang rebus, haluskan
santan encer
Haluskan semua, masak di api kecil sampe mengental dan berminyak
Entri Populer
-
Indonesia memiliki macam-macam batik yang sangat indah dan menarik. Semua batik yang dihasilkan oleh pengrajin di berbagai daerah di Indon...
-
Berikut ini adalah kumpulan resep minuman segar dan praktis untuk menu buka puasa yang dapat Anda coba. Es Melon Serut - Minuman Buka Pua...
-
Resep Kolak Singkong : Kolak Singkong Bahan: 1. 1 kilogram singkong 2. 1000 mililiter santan 3. 2 lembar daun pandan ...
-
Istana Taman Sari Pesanggrahan Taman Sari yang kemudian lebih dikenal sebagai Istana Taman Sari terletak di sebelah barat keraton Yogyak...
-
Sate atau kadangkala ditulis satay atau satai adalah makanan yang terbuat dari potongan daging (ayam, kambing, domba, sapi, b...
-
Who does not know Borobudur? This Buddhist temple has 1460 relief panels and 504 Buddha effigies in its complex. Millions of people are e...
-
Sejarah Candi Prambanan Alkisah, pada jaman dahulu terdapat sebuah kerajaan besar yang bernama Prambanan. Rakyatnya hidup tenteram da...
-
Wisata alam Kalibiru ini di sebelah barat Kota Yogyakarta dengan jarak kurang lebih 40 km, atau hanya berjarak 10 km dari Kota Wates, Ibuk...
-
Pasar Beringharjo jadi sesuatu sisi dari malioboro yang sayang untuk ditinggalkan. Bagaimana tidak, pasar ini sudah jadi pusat aktivitas ...
-
Alun-alun utara merupakan salah satu land mark Kota Yogyakarta yang berupa sebuah tanah lapang yang berada di depan Keraton Yogyakarta. D...
Sabtu, 14 Juli 2012
Borobudur Temple
Who does not know Borobudur? This Buddhist temple has 1460
relief panels and 504 Buddha effigies in its complex. Millions of people
are eager to visit this building as one of the World Wonder Heritages.
It is not surprising since architecturally and functionally, as the
place for Buddhists to say their prayer, Borobudur is attractive.
Borobudur was built by King Samaratungga, one of the
kings of Old Mataram Kingdom, the descendant of Sailendra dynasty. Based
on Kayumwungan inscription, an Indonesian named Hudaya Kandahjaya
revealed that Borobudur was a place for praying that was completed to be
built on 26 May 824, almost one hundred years from the time the
construction was begun. The name of Borobudur, as some people say, means
a mountain having terraces (budhara), while other says that Borobudur means monastery on the high place.
Borobudur is constructed as a ten-terraces building.
The height before being renovated was 42 meters and 34.5 meters after
the renovation because the lowest level was used as supporting base. The
first six terraces are in square form, two upper terraces are in
circular form, and on top of them is the terrace where Buddha statue is
located facing westward. Each terrace symbolizes the stage of human
life. In line with of Buddha Mahayana, anyone who intends to reach the
level of Buddha's must go through each of those life stages.
The base of Borobudur, called Kamadhatu,
symbolizes human being that are still bound by lust. The upper four
stories are called Rupadhatu symbolizing human beings that have set
themselves free from lust but are still bound to appearance and shape.
On this terrace, Buddha effigies are placed in open space; while the
other upper three terraces where Buddha effigies are confined in domes
with wholes are called Arupadhatu, symbolizing human beings that have been free from lust, appearance and shape. The top part that is called Arupa symbolizes nirvana, where Buddha is residing.
Each terrace has beautiful relief panels showing how
skillful the sculptors were. In order to understand the sequence of the
stories on the relief panels, you have to walk clockwise from the
entrance of the temple. The relief panels tell the legendary story of
Ramayana. Besides, there are relief panels describing the condition of
the society by that time; for example, relief of farmers' activity
reflecting the advance of agriculture system and relief of sailing boat
representing the advance of navigation in Bergotta (Semarang).
All relief panels in Borobudur temple reflect Buddha's
teachings. For the reason, this temple functions as educating medium for
those who want to learn Buddhism. YogYES suggests that you walk through
each narrow passage in Borobudur in order for you to know the
philosophy of Buddhism. Atisha, a Buddhist from India in the tenth
century once visited this temple that was built 3 centuries before
Angkor Wat in Cambodia and 4 centuries before the Grand Cathedrals in
Europe.
Thanks to visiting Borobudur and having supply of
Buddha teaching script from Serlingpa (King of Sriwijaya), Atisha was
able to improve Buddha's teachings after his return to India and he
built a religion institution, Vikramasila Buddhism. Later he became the
leader of Vikramasila monastery and taught Tibetans of practicing
Dharma. Six scripts from Serlingpa were then summarized as the core of
the teaching called "The Lamp for the Path to Enlightenment" or well
known as Bodhipathapradipa.
A question about Borobudur that is still unanswered by
far is how the condition around the temple was at the beginning of its
foundation and why at the time of it's finding the temple was buried.
Some hypotheses claim that Borobudur in its initial foundation was
surrounded by swamps and it was buried because of Merapi explosion. It
was based on Kalkutta inscription with the writing 'Amawa' that
means sea of milk. The Sanskrit word was used to describe the occurrence
of disaster. The sea of milk was then translated into Merapi lava. Some
others say that Borobudur was buried by cold lava of Merapi Mountain.
With the existing greatness and mystery, it makes sense
if many people put Borobudur in their agenda as a place worth visiting
in their lives. Besides enjoying the temple, you may take a walk around
the surrounding villages such as Karanganyar and Wanurejo. You can also
get to the top of Kendil stone where you can enjoy Borobudur and the
surrounding scenery. Please visit Borobudur temple right away...
Kamis, 05 Juli 2012
Yang Khas dari Palembang (Pempek)
Pempek atau Empek-empek adalah makanan khas Palembang yang terbuat dari ikan dan sagu. Sebenarnya sulit untuk mengatakan bahwa pempek pusatnya adalah Palembang karena hampir di semua daerah di Sumatera Selatan memproduksinya.
Penyajian pempek ditemani oleh saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko (bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, udang ebi dan cabe rawit tumbuk, bawang putih, dan garam. Bagi masyarakat asli Palembang, cuko
dari dulu dibuat pedas untuk menambah nafsu makan. Namun seiring
masuknya pendatang dari luar pulau Sumatera maka saat ini banyak
ditemukan cuko dengan rasa manis bagi yang tidak menyukai pedas.
Cuko dapat melindungi gigi dari karies (kerusakan lapisan email dan
dentin). Karena dalam satu liter larutan kuah pempek biasanya terdapat
9-13 ppm fluor. satu pelengkap dalam menyantap makanan berasa khas ini
adalah irisan dadu timun segar dan mie kuning.
Jenis pempek yang terkenal adalah "pempek kapal selam", yaitu telur
ayam yang dibungkus dengan adonan pempek dan digoreng dalam minyak
panas. Ada juga yang lain seperti pempek lenjer, pempek bulat (atau
terkenal dengan nama "ada'an"), pempek kulit ikan, pempek pistel (isinya
irisan pepaya muda rebus yang sudah dibumbui), pempek telur kecil, dan pempek keriting.
Pempek bisa ditemukan dengan sangat mudah di seantero Kota Palembang.
Pempek dijual dimana-mana di Palembang, ada yang menjual di restoran,
ada yang dipinggir jalan, dan juga ada yang dipikul. Disemua kantin
sekolah/tempat kerja/kampus pasti ada yang menjual pempek. Tahun
1980-an, penjual pempek biasa memikul 1 keranjang pempek penuh sambil
berkeliling Kota Palembang jalan kaki menjajakan makanannya.
Sejarah Pempek
Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang-Darussalam. Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan "apek", yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina.
Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi)
merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai
Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas
digoreng dan dipindang. Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan lain.
Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga
dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek
dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan
sebutan "pek … apek", maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai
empek-empek atau pempek.
Namun cerita rakyat ini patut ditelaah lebih lanjut karena singkong
baru diperkenalkan bangsa Portugis ke Indonesia pada abad 16. Selain itu
velocipede (sepeda) baru dikenal di Perancis dan Jerman pada abad 18.
Selain itu Sultan Mahmud Badaruddin baru lahir tahun 1767. Juga singkong
sebagai bahan baku sagu baru dikenal pada zaman penjajahan Portugis dan
baru dibudidayakan secara komersial tahun 1810. Walaupun begitu sangat
mungkin pempek merupakan adaptasi dari makanan Cina seperti baso ikan,
kekian ataupun ngohyang.
Pada awalnya pempek dibuat dari ikan belida. Namun, dengan semakin langka dan mahalnya harga ikan belida, ikan tersebut diganti dengan ikan gabus yang harganya lebih murah, tetapi dengan rasa yang tetap gurih.
Pada perkembangan selanjutnya, digunakan juga jenis ikan sungai
lainnya, misalnya ikan putak, toman, dan bujuk. Dipakai juga jenis ikan
laut seperti Tenggiri, Kakap Merah,
parang-parang, ekor kuning, dan ikan sebelah. Juga sudah ada yang
menggunakan ikan denci.
YOGYAKARTA PALACE (KRATON)
Kyai Brajanala bell chimes several times, its voice not
only filled but heard up to Siti Hinggil and Bangsal Pagelaran
Yogyakarta Palace. While in Sri Manganti, the chanting in Javanese
ancient language is heard being sung by a palace servant. An old book,
offerings, lanterns, and gamelan lay in front of him. Some foreign
tourists seem to listen to macapat song solemnly, and sometimes they are
looked pressing the shutter button to take pictures. Although did not
know the meaning of the song, I also sat in the front row. Javanese song
sound that floated slowly mixed with fragrance of flowers and incense
smoke, created a magical atmosphere that created a complacent. On the
right side appeared 4 other palace servants who took turn preparing to
sing. Outside the pavilion, the birds chirped noisily while flew from
the sapodilla tree tops which usually grow in Yogyakarta Palace complex
and then landed on the grass.
Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat or now
better known by the name of Yogyakarta Palace is the center of Javanese
culture living museum that is in the Special Region Yogykarta (Daerah
Istimewa Yogyakarta). Not just becomes the place to live for the king
and his family, the palace is also a main direction of cultural
development of Java, as well as the flame guard of the culture. At this
place tourists can learn and see directly on how the Javanese culture
continues to live and be preserved. Yogyakarta Palace was built by
Pangeran Mangkubumi (Prince Mangkubumi )in 1755, several months after
the signing of the Perjanjian Giyanti (the Agreement Giyanti). Banyan
forest (Hutan Beringin) was chosen as the place for building the palace
because the land was between two rivers that were considered good and
protected from possible flooding. Although already hundreds of years old
and were damaged by the massive earthquake in 1867, Yogyakarta Palace
buildings still stand firmly and well maintained.

Visiting Yogyakarta Palace will provide both valuable
and memorable experience. The palace that became the center of an
imaginary line connecting Parangtritis Beach and Mount Merapi has 2
booth doors. The first in Tepas Keprajuritan (in front of Alun-Alun
Utara), and in Tepas Tourism (Regol Keben). If entering from Tepas
Keprajuritan, visitors can only enter Bangsal Pagelaran and Siti Hinggil
and see a collection of some palace carriages, if entering from Tepas
Pariwisata, then you can enter Sri Manganti complex and Kedhaton where
there is Bangsal Kencono (Kencono Ward) that is the main hall of the
kingdom. The distance between the first and second booth door was not
far, just by walking down Jalan Rotowijayan, visitors can walk or ride a
rickshaw.
There are many things that can be seen at Yogyakarta
Palace, ranging from the activity of servants in the palace who are
doing the job or to see properties collection of the palace. Collections
are kept in glass boxes that are spread various rooms ranging from
ceramics and glassware, weapons, photographs, miniatures and replicas,
to various kinds of batik and its deorama of the making process.
Furthermore, tourists can also enjoy the art performances with different
schedules each day. The show starts from the human puppet, macapat,
puppet show, shadow puppets, and dances. To enjoy art performances,
tourists do not need to pay additional costs. If you come on Tuesday
Wage, you can watch Jemparingan or archery competition in Mataraman
style in Kemandhungan Kidul (South Kemandhungan). Jemparingan is
conducted for the heritage of Sri Sultan HB X. The uniqueness of this
jemparingan is that every participant must wear Javanese traditional
clothing and archery in a sitting position.
After enjoying the show macapat, YogYES headed around
the the palace complex and went into batik museum which was inaugurated
by Sri Sultan HB X in 2005. The museum collection is quite diverse
ranging from a variety of batik cloth up to the equipment to make batik
from the HB VIII up to HB X. In addition, in the museum, several
collections of gifts from a number of batik entrepreneurs in Yogyakarta
and other areas were stored. While enjoying the museum's collection,
YogYES’ sight was on one of the old wells that were built by Sultan
Hamengkubuwono VIII. On top of a well that has been closed using
aluminum netting, there are writings that prohibit visitors to put in
money. Being curious with the intention of the sentence, YogYES moved
closer and looked into the well, it turned out that at the bottom of the
well there are coin and paper money were scattered.
Being satisfied walking around the palace, YogYES
stepped out Regol with cheerful hearts. On the way to the parking lot, a
sign that offers classes to learn nembang / macapat, write and read
Javanese letters, classical dance, and to learn how to be a puppet
master was appeared. Apparently, in Yogyakarta Palace complex, there are
several Javanese culture and art course centers or learning centers.
YogYES, then promised that someday would come back to learn how to spell
and write hanacaraka letters and learn to dance.
Traffic Problem in Jakarta
The transportation problem of Jakarta is traffic jump which
has long been a nightmare for the resident and people
who has important assignment to the capital city. The
worriedness of the great problem has born a theory hat
in 2014 Jakarta's traffic will collapse, due to the
growth of car is faster and that the capacity of the
road. It is like frightening myth but logically sure
it could happened. Under Mr. Sutiyoso, known as Bang
Yos, a revolutionary idea has been done to free the
people from the myth. With his talented staff Mr. Rustam
Effendi the governor Sutiyoso developed" Macro
Transportation Scheme ( JMaTS )" This program integrates
all public transportation's which have been existing
long time as government companies such as Busway, light
rail Transit ( LRT ), Mass Rapid Transit ( MRT ), River
- Lake - Strait Crossing ( ASDP ) with JMaTS which uses
3 basis of transportation : land, rail, water and traffic
restraint. This integrated program is expected to complete
by 2007 or latest by 2010. First step toward the realization
of this great idea is the Trans Jakarta Busway which
was started in 15 January 2004. The program of JMaTS
has a great mission of educating people to be discipline
in traffic and using public services which is actually
the foundation of a nation to reach the advancement
in all aspects of life.
At the beginning the idea of integrated transport system of Jakarta was critisized of being corrupt project or unrealistic idea and others. Despite the fact hat so many critics to the project the governor of Jakarta with his clear vision on the future of traffic of Jakarta he made his resolution that the problem of traffic can only be overcome if it is started from now physically and educationally. So many cities in Indonesia have entered the problem like Jakarta, but no leader that has the quality like Bang Yos, who really care about the future of his country. It was said that Bang Yos also did a study to Bogota, the capital city of Columbia at South America concerning the busway, a third world also facing the same problem of city traffic.
The management of Busway is given to Badan Pengelola Trans Jakarta under the head of Irzal Djamal. According to Rustam Effendi, the number of car in Jakarta is 5,4 million units with growth rate of 11% per year. In 2003 every day 138 new car / motor registrations were issued. If it is configured that on the road every car running on every road need space 50 cms between them, so it will need 6 meters per unit, which logically everyday need additional extension of road up to 828 meters. In the year of 2004 the addition of car/motor jumped up to 269 unit per day which necessitates 1.614 meters additional road. This is not yet included the projection of cars that enters Jakarta from Bogor, Tanggerang, Bekasi and others which reached 600.000 units or 1.3 million passengers on 2003. This group also experienced growth rate quiet high which reached 700.000 units in 2004. The problem of traffic in Jakarta disclosed to be too complicated when a research indicated that the ratio of private owned car to public car is 98 : 2 per cent, with the number of passengers being transported by 98% compared to 2% have the same number. It is hoped that governor Sutiyoso can be an example of how future leaders of Indonesia handle this country's problem of development which is far legged behind by advanced countries.
At the beginning the idea of integrated transport system of Jakarta was critisized of being corrupt project or unrealistic idea and others. Despite the fact hat so many critics to the project the governor of Jakarta with his clear vision on the future of traffic of Jakarta he made his resolution that the problem of traffic can only be overcome if it is started from now physically and educationally. So many cities in Indonesia have entered the problem like Jakarta, but no leader that has the quality like Bang Yos, who really care about the future of his country. It was said that Bang Yos also did a study to Bogota, the capital city of Columbia at South America concerning the busway, a third world also facing the same problem of city traffic.
The management of Busway is given to Badan Pengelola Trans Jakarta under the head of Irzal Djamal. According to Rustam Effendi, the number of car in Jakarta is 5,4 million units with growth rate of 11% per year. In 2003 every day 138 new car / motor registrations were issued. If it is configured that on the road every car running on every road need space 50 cms between them, so it will need 6 meters per unit, which logically everyday need additional extension of road up to 828 meters. In the year of 2004 the addition of car/motor jumped up to 269 unit per day which necessitates 1.614 meters additional road. This is not yet included the projection of cars that enters Jakarta from Bogor, Tanggerang, Bekasi and others which reached 600.000 units or 1.3 million passengers on 2003. This group also experienced growth rate quiet high which reached 700.000 units in 2004. The problem of traffic in Jakarta disclosed to be too complicated when a research indicated that the ratio of private owned car to public car is 98 : 2 per cent, with the number of passengers being transported by 98% compared to 2% have the same number. It is hoped that governor Sutiyoso can be an example of how future leaders of Indonesia handle this country's problem of development which is far legged behind by advanced countries.
Sejarah Berdirinya Universitas Gadjah Mada
Gedung SMT Kotabaru, 24 Januari 1946, kelihatan dipenuhi pengunjung. Mereka adalah orang-orang yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap peningkatan martabat manusia Indonesia. Di antara mereka teriihat Mr. Boediarto, Ir. Marsito, Prof. Dr. Prijono, Mr. Soenarjo, Dr. Soleiman, Dr. Buntaran, Dr. Soeharto. Mereka bermaksud mendirikan Balai Perguruan Tinggi Swasta di Yogyakarta.
Dalam pertemuan itu, Mr. Soenarjo, menegaskan bahwa di Jakarta, NICA sudah mendirikan Universitas. Bangsa Indonesia tidak boleh gagal mendirikan universitas. "Lebih- lebih sekarang, pada waktu pembangunan, waktu kita butuhkan bermacam-macam ilmu pengetahuan", tambah Mr. Soenarjo.
Pertemuan di atas diikuti oleh beberapa pertemuan berikutnya, salah satunya adalah pertemuan di Gedung KNI Malioboro, tanggal 3 Maret 1946. Dalam pertemuan ini, diumumkan berdirinya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada, yang terdiri atas Fakultas Hukum dan Fakultas Kesusasteraan.
Dalam pertemuan ini, diumumkan berdirinya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada, yang terdiri atas Fakultas Hukum dan Fakultas Kesusasteraan
Dengan berdirinya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada, maka pada tahun 1 946 terdapat dua perguruan tinggi di Yogyakarta. Yang satu lagi adalah Sekolah Tinggi Teknik, yang berdiri tanggal 17 Februari 1946. Sekolah Tinggi Teknik ini merupakan usaha penghidupan kembali Sekolah Tinggi Teknik Bandung, yang terpaksa ditutup karena suasana perang antara Indonesia dan tentara sekutu di antara pemimpinnya, tersebutlah nama Prof. Jr. Rooseno dan Prof. Ir. Wreksodhiningrat.itulah sebabnya mahasiswa Fakultas Teknik Bandung dapat melanjutkan pendidikannya dan menempuh ujian insinyur di Sekolah Tinggi Teknik Yogyakarta.
Klaten sekarang tentu saja berbeda dengan Klaten di tahun 1946. Perbedaan yang menyolok adalah soal pendidikan tinggi. Kini Klaten tidak memiliki perguruan tinggi. Tetapi, Klaten tahun 1946 adalah kota pendidikan. disini berdiri, antara lain Perguruan Tinggi Kedokteran (berdiri 5 Maret 1946), Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan (berdiri 20 September 1 946), Sekolah Tinggi Farmasi (berdiri 27 September 1946), dan Pergurutan Tinggi Pertanian (berdiri 27 September 1946).
Mengapa Klaten dipilih sebagai tempat pendirian beberapa perguruan tinggi? Jawabnya. karena Klaten terletak di pedalaman. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya tidak mungkin lagi menyelenggarakan pendidikan tinggi. Sebab, ketiga kota tersebut sering kali dibom oleh tentara sekutu. Para pejuang Indonesia di ketiga kota tersebut tidak tinggal diam. Mereka juga balas menyerang sekutu.
Akibatnya, ketiga kota ini menjadi ajang pertempuran.
Alasan lain adalah, adanya laboratorium pendukung dan lnstitut Pasteur. Laboratorium disediakan oleh Rumah Sakit Tegalyoso. Sedangkan Institut Pasteur di Bandung, setelah diambil alih oleh bangsa Indonesia dari tangan Jepang, 1 September 1945, dipindahkan ke Klaten (Salah seorang yang ikut memindahkan institut ini adalah Prof. Dr. M, Sardjito).
Kehidupan perguruan tinggi di Klaten makin marak dengan berdirinya Fak. Kedokteran Gigi awal tahun 1948. Hal ini berlangsung sampai 19 Desember 1948, saat Belanda menyerbu ke dalam daerah Republik Indonesia.
Tujuh bulan sebelum penyerbuan Belanda ke dalam Republik Indonesia, tepatnya awal Mei 1948, Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan sesungguhnya sudah mendirikan Akademi Ilmu Politik di Yogyakarta. Akademi ini berdiri atas usul Kementerian Dalam Negeri, yaitu untuk mendidik calon-calon pegawai Departemen Dalam Negeri, Departemen Luar Negeri dan Dep. Penerangan.
Pada saat berdiri, Akademi Ilmu Politik ini dipimpin oleh Prof. Djokosoetono, S.H. Beberapa pegawai Dep. Dalam Negeri yang belajar di sini, antara lain: Djumadi lsworo, Soempono Djojowadono, Irnan Soetikno, Bambang Soegeng Wardi dan Dradjat. Sayang, umur akademi ini tidak lama. Setelah pemberontakan PKI Madiun meletus, September 1948, akademi ini ditinggalkan para mahasiswanya. Mereka ikut menumpas pemberontakan dan membangun kembali kerusakan-kerusakan yang terjadi. Maka akademi ini pun terpaksa ditutup.
Kalau di atas di ceritakan bahwa perguruan-perguruan tinggi yang terpaksa ditutup di Klaten dan Yogyakarta adalah perguruan tinggi yang sudah beroperasi, di Solo ada perguruan tinggi yang sudah dibuka terpaksa batal diresmikan. Yakni: Balai Pendidikan Ahli Hukum. Perguruan tinggi ini berdiri 1 November 1948, sebagai hasil kerja sama Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dengan Kementerian Kehakiman.
Bersamaan dengan itu, Panitia Pendirian Perguruan Tinggi Swasta di Solo, yang dipimpin oleh Drs. Notonagoro, S.H., Koesoemadi, S.H. dan Hardjono, S.H., juga merencanakan pendirian Sekolah Tinggi Hukum NegeriBersamaan dengan itu, Panitia Pendirian Perguruan Tinggi Swasta di Solo, yang dipimpin oleh Drs. Notonagoro, S.H., Koesoemadi, S.H. dan Hardjono, S.H., juga merencanakan pendirian Sekolah Tinggi Hukum Negeri. Panitia ini menyarankan agar Balai Pendidikan Ahli Hukum digabungkan saja dengan Sekolah Tinggi Hukum Negeri. Paling tidak untuk melakukan efisiensi. Usul ini, rupanya, diterima pemerintah. Buktinva, Peraturan Pemerintah No. 73 tahun 1948 menyebutkan bahwa Balai Pendidikan Ahli Hukum digabungkan ke dalam Sekolah Tinggi Hukum Negeri.
Menurut Prof. Dr. M. Sardjito, Sekolah Tinggi Hukum Negeri Solo ini akan diresmikan tanggal 28 Desember 1948. Tetapi, sembilan hari sebelum peresmian, Belanda sudah menyerbu ke wilayah Republik Indonesia. Apa boleh buat, perjuangan menentang Belanda menjadi prioritas. Akibatnya, sekolah tinggi ini layu sebelum menguntum dan terpaksa bubar sebelum diresmikan.
Tidak banyak yang ingat kapan persisnya timbul ide untuk menggabungkan beberapa perguruan tinggi perjuangan (Sebutan ini, diberikan oleh Prof. Ir. Herman Johannes) tersebut di atas menjadi sebuah perguruan tinggi. Tetapi, menurut Prof. Dr. M. Sardjito, tanggal 20 Mei 1949, ada rapat Panitia Perguruan Tinggi, di Pendopo Kepatihan Yogyakarta. Rapat ini dipimpin oleh Prof. Dr. Soetopo, dengan anggota rapat antara lain, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prof. Dr. M. Sardjito, Prof. Dr. Prijono, Prof. Ir. Wreksodhiningrat, Prof. Ir. Harjono, Prof. Sugardo dan Slamet Soetikno, S.H. Salah satu hasil rapat adalah: beberapa anggota rapat menyanggupi pendirian perguruan kembali di wilayah republik, yaitu Yogyakarta. Mereka yang bersedia adalah Prof. Ir. Wreksodhiningrat, Prof. Dr. Prijono, Prof. Ir. Harjono dan Prof. Dr. M. Sardjito.
Kesulitan utama yang ditemui para Guru Besar tersest di atas dalam mendirikan kembali perguruan tinggi di Yogya adalah tidak adanya ruangan untuk kuliah. Untunglah Sultan Hamengku Buwono IX bersedia meminjamkan kraton dan beberapa gedung di sekitar kraton untuk ruangan kuliah. Masalah utama pun terpecahkan. Setelah itu persiapan lain pun dimatangkan.
Usaha keras para Guru Besar tersebut akhirnya membuahkan hasil. Tanggal 1 November 1949, di Kompleks Peguruan Tinggi Kadipaten, Yogyakarta, berdiri kembali Fakultas Kedokteran Gigi dan Farmasi, Fakultas Pertanian., dan Fakultas Kedokteran. Pembukaan ketiga fakultas ini dihadiri oleh Bung Karno. Pada pembukaan ini, menurut Prof. Dr. M. Sardjito, diadakan sebuah renungan bagi para dosen dan mahasiswa yang telah gugur dalam peperangan melawan Belanda, yaitu: Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, Ir. Notokoesoemo, Roewito, Asmono, Hardjito dan Wurjanto.
Keesokan harinya, 2 November 1949, giliran FakultasTeknik, Akademi Ilmu Politik dan beberapa fakultas yang berada di bawah naungan Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada yang diresmikan. Kota Yogyakarta pun kembali marak dengan mahasiswa.
Keesokan harinya, 2 November 1949, giliran FakultasTeknik, Akademi Ilmu Politik dan beberapa fakultas yang berada di bawah naungan Yayasan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada yang diresmikan.Sebulan kemudian, tepatnya 3 Desember 1949, dibuka pula Fakultas Hukum di Yogyakarta. Fakultas ini merupakan pindahan Sekolah Tinggi Hukum Negeri Solo. Orang yang berjasa dalam pemindahan ini adalah Prof. Drs. Notonagoro, S.H.
Tidak mudah mencari informasi mengapa pada tanggal 2 November 1949 tidak langsung didirikan sebuah universitas yang bisa menaungi 3 fakultas yang berdiri pada saat itu. Di samping orang-orang yang terlibat dengan pendiriannya sudah meninggal dunia, dokumentasi yang dimiliki Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak pernah menyinggung hal tersebut. Adalah wajar kalau kemudian perlu disarankan kepada UGM untuk mencari alasan tersebut. Paling tidak untuk menyempurnakan riwayat pendirian Universitas Gadjah Mada.
Tetapi, beroperasinya kembali 8 fakultas tersebut di atas sejak 1 November 1949, mendorong lahirnya UGM, 19 Desember 1949. Tanggal ini dipilih, seperti disebut Bung Karno. adalah untuk memperlihatkan kepada dunia luar bahwa Bangsa Indonesia sanggup bangkit, meskipun sudah diserang habis-habisan oleh Belanda, 19 Desember 1948, dengan kata lain tanggal 19 Desember 1949 dipilih untuk menghilangkan noda 19 Desember 1948.
Pada saat berdirinya, menurut Peraturan Pcmerintah No. 23 Tahun 1949, UGM memiliki enam fakultas, yaitu: (1) Fakultas Teknik (di dalamnya termasuk Akademi Ilmu Ukur dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Ilmu Alam dan Ilmu Pasti) ; (2) Fakultas Kedokteran di dalamnya termasuk bagian Farmasi, bagian Kedokteran Gigi dan Akademi Pendidikan Guru bagian Kimia dan limu Hayat; (3) Fakultas Pertanian di dalamya ada Akademi Pertanian dan Kehutanan; (4) Fakultas Kedokteran Hewan; (5) Fakultas Hukum di dalamnya ada Akademi Keahlian Hukum, Keahlian Ekonomi dan Notariat, Akademi Ilmu Politik dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Tatanegara, Ekonomi dan Sosiologi; dan (6) Fakultas Sastra dan Filsafat di dalamnya ada Akademi Pendidikan Guru bagian Sastra.
Pada saat peresmian berdirinya UGM, Prof. Dr. M. Sardi . ito ditetapkan sebagai Presiden UGM. Pada saat yang sama juga ditetapkan Senat UGM dan Dewan Kurator UGM. Mengenai yang terakhir ini, kepengurusannya terdiri dari ketua (Ketua Kehormatan adalah Sultan Hamengku Buwono IX, sedangkan Ketua adalah Sri Paku Alam VIII, wakil ketua dan anggota. Ini menimbulkan pendapat bahwa ketika UGM lahir, ia memang telah siap untuk meneruskan perjuangan, yaitu meningkatkan martabat manusia Indonesia.
Dari rentetan riwayat perjuangan mendirikan UGM di atas, tidak berlebihan rasanya bila disimpulkan bahwa pendirian UGM adalah usaha untuk meneruskan perjuangan. Ini perlu menjadi pegangan bagi seluruh sivitas akademika UGM
Sumber:
"Riwajat Perdjuangan Mendirikan Universitas Gadjah Mada dan Sekedar Tentang Perguruan Tinggi lain di Inonesia " oleh Prof. Dr. M. Sardjito, "Perdjuangan Universitas Gadjah Mada dan Perguruan Tinggi Lain Dalam Revolusi Fisik"oleh Pro.f Ir. Herman Johannes, "Buku Kenangan Seperempat Abad Univervitas Gadjah Mada 11 vang diredakturi oleh Drs. H. Nangtjik dan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949.
http://www.ugm.ac.id/content.php?page=0&display=2
Angkringan is Cultural of Java

Angkringan is a very unique cultural feature in the island of Java, especially in central Java and Yogyakarta special province. The Angkringan generally can be described as a food peddler who using a kind of small house cart and sell various kind of traditional food in a very affordable cost.
Angkringan is unique because it mostly can be found only in small part of central Java and large part of Yogyakarta; you can find the angkringan in almost every alleys of Yogyakarta.
Another uniqueness of the Angkringan is the cultural value of it. Numerous of local wisdom can be learned in the establishment of Angkringan. The Angkringan is not only considered as a place to get your meal and go. It's a warm place where you will be welcomed with hospitable, friendly and polite service; place to socialize with other people with no discrimination whatsoever.
Langganan:
Postingan (Atom)

